BANDUNG, (PR).-
Perayaan ekaristi malam Paskah di Bandung, Sabtu (22/3), berlangsung aman. Umat Kristen merayakan kebangkitan Kristus dengan khusyuk.
Di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung, Misa Paskah diadakan tujuh kali selama dua hari, Sabtu (22/3) dan Minggu (23/3). Pada Misa Malam Paskah kedua, Sabtu, pukul 19.30 WIB, Pastor Leo van Beurden, OSC., dalam khotbahnya, menegaskan kesetiaan Allah yang tetap peduli pada nasib manusia.
Perayaan ekaristi dimulai dengan upacara cahaya. Semua lampu di dalam gereja dimatikan saat pastor bersama rombongan prodiakon dan putra altar masuk. Suasana gelap menandai kegelapan yang muncul karena kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Upacara cahaya diawali dengan penyalaan lilin Paskah setinggi 1,5 m yang diletakkan di depan altar oleh pastor. Sesudah lilin menyala, putra altar menyebarkan nyalanya kepada seluruh umat yang masing-masing memiliki satu lilin kecil di tangan. Lilin merupakan tanda penghormatan kepada Sang Awal dan Akhir, Yesus Kristus yang menjadi terang bagi manusia. Upacara dilanjutkan dengan nyanyian kisah penciptaan dunia.
Dalam doa umat, umat berlutut memohon berkat untuk menjadi terang bagi sesama serta berdoa untuk kebangkitan Bangsa Indonesia dari berbagai keterpurukan. Perayaan malam Paskah juga dilakukan pembaruan janji baptis sebagai lambang kesetiaan mengikuti Kristus.
Di Gereja Fransiskus Xaverius Dayeuhkolot, Kab. Bandung, Pastor Leonardus Bambang Pr., dalam khotbahnya mengatakan, tidak ada kebangkitan tanpa penderitaan. Kristus bangkit dari kematian dan alam maut setelah mengalami sengsara karena menjadi pemulih dosa-dosa manusia. Momen paskah merupakan waktu yang tepat bagi umat kristiani untuk bangkit dari keterpurukan. Menjadi manusia baru, meninggalkan dosa, dan mampu membangun kesejadian hidup dengan mencintai sesama dan alam.
“Semua pengalaman hidup jika dilihat dalam suasana iman merupakan jalan terang dari Tuhan untuk kita dan akan indah pada waktunya. Sebagai pengikut Kristus, kita hendaknya meneladani Dia yang bangkit dari kuasa maut. Bangkit ke arah perubahan hidup yang lebih baik dalam segala hal,” katanya.
Melalui malam paskah, umat diajak memaknai tiap langkah hidup, meninggalkan kegelapan dosa, dan hidup dalam iman akan Yesus Kristus.
Kebangkitan rohani
Sementara itu, Gereja Kristen Perjanjian Baru “Fajar Pengharapan” Pasir Koja merayakan Paskah selama tiga hari, mulai dari Jumat (21/3) hingga Minggu (23/3) di gedung Sabuga, Bandung. Acara dibagi ke dalam berbagai segmen umat orang tua, remaja, dan anak-anak.
Salah satu acara berupa pentas drama musikal oleh anak-anak Sekolah Minggu. Drama bercerita tentang intrik yang terjadi di Negeri Penuh Nyanyian, negeri yang penuh dengan cinta dan kedamaian.
“Melalui kegiatan tiga hari ini, kami ingin mengajak umat Kristiani bangkit secara rohani. Kebangkitan rohani niscaya akan diikuti kebangkitan bidang hidup yang lain,” tutur Lukas Gunawan, ketua panitia kegiatan. (CA-168/165